Penguatan Kapasitas Penganyam Rotan di Kabupaten Katingan

Provinsi Kalimantan Tengah sejak lama dikenal sebagai salah satu sentra penghasil rotan terbesar di Indonesia. Kabupaten Katingan merupakan salah satu wilayah utama penghasil rotan, dengan sedikitnya 10 kecamatan yang dikenal memiliki kualitas rotan unggulan. Setiap bulan, produksi rotan hasil budidaya di wilayah ini mencapai sekitar 600–800 ton. Komoditas rotan telah menjadi produk unggulan daerah, yang didukung oleh Pemerintah Kabupaten Katingan melalui berbagai kebijakan, termasuk pendirian Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang berfokus pada pembudidayaan rotan serta pelestarian kerajinan anyaman rotan.

Jenis rotan yang dibudidayakan dan dimanfaatkan oleh masyarakat Katingan antara lain rotan taman (irit dan sega), rotan sabutan, serta rotan marau atau manau, yang selama ini menjadi bahan baku utama produk anyaman bernilai ekonomi dan budaya tinggi. Namun, dalam perkembangannya, aktivitas menganyam rotan mulai terpinggirkan akibat keterbatasan akses pasar, rendahnya kapasitas produksi, serta lemahnya kelembagaan kelompok penganyam.

Program Community Empowerment through Integrated Rattan Supply Chain (CE-IRSC) dilaksanakan untuk mengintegrasikan potensi produk anyaman rotan di tiga kecamatan, yaitu Pulau Malan, Katingan Hilir, dan Tasik Payawan, dengan kebutuhan pasar guna mendorong pengembangan usaha yang berkelanjutan (sustainable business development). Program ini akan diimplementasikan oleh RMI-The Indonesian Institute for Forest and Environment, Tropical Forest and Land Conservation (TFLC) Kalimantan, Yayasan Betang Borneo Indonesia (YBBI), serta PT Harmoni Usaha Indonesia (HUI).

Tujuan utama program ini adalah meningkatkan sumber penghidupan (livelihood) masyarakat Kabupaten Katingan melalui penguatan rantai pasok rotan yang terintegrasi, menghidupkan kembali budaya menganyam rotan, serta menyediakan produk anyaman rotan bersertifikasi FSC untuk memenuhi kebutuhan pasar dan dunia usaha.

Selain itu, program ini diharapkan memberikan dampak positif terhadap kesetaraan gender dan inklusi sosial (Gender Equality and Social Inclusion), peningkatan akses pasar, penguatan kapasitas produksi dan investasi, pengurangan jejak karbon serta resiko eksploitasi sumber daya alam, dan pencegahan konversi lahan yang mengancam sumber penghidupan masyarakat.

Untuk mencapai tujuan dan dampak tersebut, program ini memerlukan serangkaian kegiatan yang mencakup dukungan teknis dan peningkatan kapasitas masyarakat, khususnya dalam menghidupkan kembali praktik menganyam rotan yang selama ini kurang mendapat perhatian. Selain itu, program ini juga menekankan pada pembentukan dan penguatan kelembagaan kelompok penganyam serta pelibatan pemangku kepentingan terkait, seperti P2RK, pemerintah desa, dan Pemerintah Kabupaten Katingan guna memastikan keberlanjutan program dan dampak jangka panjang bagi masyarakat.

TERKAIT

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Artikel Terbaru