Pemilihan Umum (Pemilu) yang berlangsung pada 14 Februari 2024 menorehkan catatan penting terkait peningkatan keterwakilan perempuan dan pemenuhan hak pilih kelompok rentan di Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. Proses pesta demokrasi ini berjalan lebih inklusif berkat kerja sama antara pemerintah desa, penyelenggara pemilu, dan organisasi masyarakat.
Berdasarkan hasil rekapitulasi suara sementara untuk DPRD Kabupaten/Kota di Daerah Pemilihan (Dapil) 1 Pulang Pisau, keterwakilan perempuan menunjukkan pencapaian signifikan. Perempuan berhasil mengamankan tiga dari sebelas kursi legislatif yang diperebutkan.
Pencapaian ini menjadi pembuktian eksistensi politik perempuan di tengah tantangan domestik dan stigma publik. Meski sering dianggap sebagai pelengkap, para calon legislatif perempuan membuktikan kompetensinya melalui gagasan emansipatif yang berorientasi pada masa depan.
Partisipasi aktif juga ditunjukkan oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) di Desa Pilang yang seluruh anggotanya menggunakan hak pilih. Namun, sebagian pemilih perempuan di desa tersebut mengaku terpaksa melontarkan pilihan kosong (golput) untuk tingkat DPR RI dan DPRD Provinsi karena tidak mengenal profil serta visi misi calon yang ada.
Selain keterwakilan perempuan, Pemilu 2024 di wilayah ini juga fokus pada pemenuhan hak kelompok lansia dan penyandang disabilitas. Kelompok Panitia Pemungutan Suara (KPPS) setempat menerapkan sistem jemput bola dengan mendatangi langsung rumah para lansia dan penyandang disabilitas.
Petugas KPPS, didampingi pengawas Tempat Pemungutan Suara (TPS) dan saksi, membawa atribut dan alat pencoblosan agar masyarakat rentan dapat mencoblos secara sah. Langkah ini merupakan hasil advokasi berkelanjutan antara Yayasan Betang Borneo Indonesia (YBBI) dan pemerintah desa demi menjamin kesetaraan hak warga negara.
Peningkatan partisipasi pemilih ini diakui oleh Peri, Ketua Hutan Kemasyarakatan (HKm) Desa Simpur sekaligus pemilik rumah yang dijadikan lokasi TPS 2. Menurutnya, kesadaran warga dan aparatur desa terhadap hak-hak kelompok rentan meningkat drastis dibandingkan pemilu sebelumnya.
Pemerintah dan masyarakat desa bergotong royong menyediakan layanan transportasi dan fasilitas khusus, tidak hanya bagi disabilitas dan lansia, tetapi juga untuk warga yang sedang sakit.
Secara keseluruhan, Pemilu 2024 di daerah ini berhasil menyoroti kemajuan dalam menciptakan iklim demokrasi yang inklusif. Hasil ini diharapkan dapat menjadi modal penting menuju tatanan politik yang lebih adil bagi seluruh lapisan warga negara.



