Yayasan Betang Borneo Indonesia (YBBI) bersama Yayasan Rimbawan Muda Indonesia (RMI) dan Tropical Forest and Land Conservation (TFLC) Kalimantan menggelar festival bertajuk “Menjawet Rotan, Mahaga Hutan” pada 11 April 2026 di Gedung Dekranasda Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah. Kegiatan ini bertujuan untuk mempromosikan produk anyaman rotan unggulan sekaligus memperluas akses pasar bagi pengrajin lokal. Kegiatan ini juga menjadi momentum penting bagi masyarakat Katingan untuk menunjukkan bahwa rotan bukan sekadar komoditas.
Dalam praktiknya, budaya rotan memiliki dimensi sosial yang kuat. Laki-laki umumnya terlibat dalam pengumpulan dan pengolahan bahan baku, sementara perempuan berperan besar dalam proses pembersihan dan terutama dalam menganyam produk jadi. Proses menganyam membutuhkan ketelitian, ketekunan, dan waktu 2–3 hari untuk menghasilkan satu produk, tergantung ukuran dan tingkat kerumitannya. Peran ini menjadikan perempuan sebagai aktor penting dalam penciptaan nilai tambah rotan di tingkat rumah tangga.
Akan tetapi sekarang, pengrajin menghadapi tantangan besar berupa keterbatasan akses pasar karena hanya bergantung pada jaringan lokal dan pameran temporer. Kondisi ini menyebabkan nilai ekonomi anyaman kalah bersaing dengan perdagangan rotan mentah. Akibatnya, minat masyarakat untuk menganyam terus menurun dan menghambat proses regenerasi.
Festival ini diharapkan mampu menciptakan rantai pasok yang lebih inklusif dan adil bagi masyarakat. Dengan meningkatnya visibilitas produk, rotan Katingan diproyeksikan tidak hanya menjadi identitas budaya, tetapi juga penggerak utama ekonomi berkelanjutan di Kalimantan Tengah.



